Resensi: Sang Alkemis (The Alchemist)

 


Seorang anak gembala yang hidup bebas mengembara dari bukit dan lembah melintasi desa dan kota membawa domba-dombanya kini beristirahat di gereja yang telah lama rusak, tepat di sakristi bangunan tua tersebut tumbuh pohon beralaskan bukunya anak gembala itu tidur di sana. Kini yang sedang merindukan gadis anak pemilik toko kain tempat ia menjual bulu dombanya setahun yang lalu. Namun, mimpi berulang mengenai harta karun di bawah piramida-piramida Mesir mengusik hari-harinya. Mimpi-mimpinya mengantarkan anak gembala yang dahulunya seorang seminarian itu bertemu banyak orang mulai dari peramal gypsi, seorang raja tua, seorang pencuri, pemilik toko kristal, seorang Inggris dengan buku-bukunya, pemandu caravan di padang gurun, Fatima si gadis gurun, hingga sang alkemis yang menjadi gurunya.

Berlatarkan Eropa dan Africa buku ini ditulis dengan konflik yang sederhana dan ringan sehingga menjadikan pembaca dapat dengan mudah turut bergabung di dalam ceritanya. Pembaca dibawa turut belajar dalam setiap langkah yang diambil anak gembala tersebut. Menikmati dan merasakan hal-hal dan detail kecil dalam hidup yang mengagumkan, yang mungkin kerap terjadi dalam hidup dan tidak disadari. Cerita mengenai anak gembala dengan pergulatan pikirannya sendiri dan dialog dengan orang-orang asing yang ditemuinya turut memberikan pelajaran bagi para pembaca. Buku ini memiliki daya yang membawa pembacanya menyadari bahasa dunia dan takdir untuk mengingat mimpi-mimpi mereka. Sarat dengan petuah bijaksana yang dapat dikutip dan disimpan entah sebagai pegangan hidup maupun sekedar pemanis kata-kata ataupun caption sosial media pembaca. Cerita yang tidak terlalu panjang dengan penyelesaian konflik-konflik yang ringkas serta tidak bertele-tele menjadikan buku ini tidak membosankan dan sarat makna dalam setiap lembar bukunya.

Pada akhir cerita buku ini memiliki alur yang menggantung, yang tak secara gamblang menyelesaikan dan menjawab mimpi dari sang anak gembala. Pembaca dibiarkan berhenti pada akhir yang tak jelas, sehingga dapat membingungkan bagi sebagian pembaca.

Beberapa kutipan manis dari buku ini diantaranya:

“Dalam hidup ini, justru hal-hal sederhanalah yang paling luar biasa; hanya orang-orang bijak yang dapat memahaminya.”

“Orang tampaknya selalu lebih tahu, bagaimana orang lain menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri.”

“Dan saat engkau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu membantumu meraihnya.”

“Cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya, itu karena cintanya bukan cinta sejati. Bukan cinta yang berbicara Bahasa Dunia.”

“Kalau setiap hari terasa sama saja, itu karena orang-orang tidak menyadari hal-hal indah yang terjadi dalam hidup mereka setiap hari.”

“Intuisi adalah peleburan jiwa dengan begitu saja ke dalam arus kehidupan universal, dimana sejarah semua saling terkait, dan kita bisa mengetahui segalanya, sebab segalanya telah tertulis di sana.”

“Kalau kau menginginkan sesuatu sepenuh hatimu, saat itulah kau berada amat sangat dekat dengan Jiwa Dunia. Dengan Jiwa Dunia inilah segala sesuatu berkomunikasi, siapapun yang memahami jiwa ini juga bisa memahami bahasa benda-benda.”

“Aku tidak hidup di masa lalu ataupun masa depan. Berbahagialah orang yang bisa berkonsentrasi hanya untuk saat ini. Hidup ini akan terasa seperti pesta bagimu, suatu festival meriah.”

“Kalau kau mengerti bahasa universal, mudah bagimu memahami ada seorang di dunia ini yang menanti-nantimu. Dan saat dua orang ini bertemu dan mata mereka beradu pandang masa lalu dan masa depan tidak lagi penting. Yang ada hanyalah saat ini, serta keyakinan yang amat sangat bahwa segala sesuatu di bawah matahari ini digoreskan oleh satu tangan yang sama. Tangan yang membangkitkan rasa cinta, menciptakan kembaran jwa untuk setiap orang di dunia. Tanpa cinta semacam itu, mimpi-mimpi tak lagi berarti.”

“Disadarinya dia telah mencintai wanita itu bahkan sebelum mereka bertemu.”

“Rahasianya ada pada sekarang ini. Kalau kau bisa menaruh perhatian pada saat sekarang, kau bisa memperbaikinya. Kalau kau memperbaiki saat sekarang ini, apa yang akan datang juga akan lebih baik.”

“Keberanian adalah faktor paling penting untuk kita bisa memahami Bahasa Dunia.”

“Kehidupan akan menarik kehidupan.”

“Kau takkan pernah bisa lari dari hatimu. Jadi, sebaiknya dengarkanlah suaranya. Dengan begitu kau tak perlu takut mendapat pukulan yang tak disangka-sangka.”

“Rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri. Dan tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya, sebab setiap detik pencarian itu bisa diibaratkan pertemuan kembali dengan Tuhan dan keabadian.”

“Setiap detik pencarian adalah pertemuan dengan Tuhan.”

“Setiap pencarian dimulai dengan keberuntungan pemula dan diakhiri dengan ijian berat si pemenang.”

Tuhan bersemayam dalam diri semua orang yang berbahagia. Kebahagiaan bisa ditemukan dalam sebutir pasir gurun, yang merupakan bagian dari penciptaan dan alam semesta memerlukan jutaan tahun menciptakannya.”

“Dan siapapun yang campur tangan dalam takdir orang lain tidak akan pernah menemukan takdirnya sendiri.”

“Biasanya karena takut mati, orang akan lebih sadar akan hidup mereka.”

“Di dalam diriku ada angin, padang pasir, samudra, bintang-bintang, dan segala ciptaan lain di alam semesta.”

“Kalau kau dicintai, kau jadi bisa menciptakan apapun. Kalau kau dicintai, kau tak perlu memahami apa yang terjadi, sebab segala sesuatu terjadi dalam dirimu.”

“Cinta adalah daya yang mengubah dan memperbaiki Jiwa Dunia.”


Judul : Sang Alkemis (The Alchemist)

Penulis : Paulo Coelho

Penerjemah : Tanti Lesmana

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Halaman : 221


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aksa

Resensi : Animal Farm