Resensi: Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis
Pilar seorang pelajar universitas di Zaragosa mendapat undangan untuk menghadiri seminar dari teman lamanya. Pilar saat itu tengah menjalani kehidupannya di tanah kelahiran sekaligus tempat ia bertumbuh, yang kadang kala memendam keirian pada si teman lama yang rutin saling berkirim surat dengannya dari berbagai kota dan negara. Pilar memenuhi undangan tersebut yang menjadikan pertemuan pertama setelah 11 tahun tak bertemu dengan si teman lama. Sang teman lama telah menjelma menjadi tokoh agama yang karismatik dan punya kemampuan menyembuhkan. Sang teman lama yang telah menjadi calon imam Katolik meminta Pilar menemaninya dalam beberapa rangkaian perjalanan yang membawa Pilar menjelajahi berbagai tempat dan bertemu berbagai orang. Dalam proses ini Pilar yang telah lama meninggalkan agama, menemukan kembali keyakinannya. Sekaligus dalam perjalanan itu, mengingatkan kembali cinta lama yang pernah tumbuh diantara mereka berdua.
Buku ini mengisahkan dialog batin Pilar yang dilematis. Pilar meragukan serta merasa skeptis akan cinta dan memiliki trauma serta ketakutan ditinggalkan, sehingga menolak kehadiran cinta pada teman lamanya. Pilar saat itu tengah kehilangan imannya, di samping itu si teman lama pun ada di persimpangan apakah melanjutkan panggilan hidup selibat atau memperjuangkan cintanya pada Pilar yang tak memudar sejak mereka kecil. Namun, tak hanya berfokus pada konflik kedua individu ini, Coelho dengan karyanya yang karismatik dan puitis mengangkat tema mengenai sisi feminim Tuhan. Dimana sang Bunda Ilahi menjadi objek yang amat ditonjolkan dalam proses pencarian kedua orang muda ini. Tuhan tidak ditemukan dalam aturan dan dogma yang kaku “Mujizat dan pertanda Tuhan ada disekeliling kita, namun tidak kita sadari. Karena kita diajari bahwa jika ingin menemukan Tuhan harus mengikuti rumus-rumus tertentu, dan tidak menyadari bahwa Allah Bapa dan Bunda Ilahi ada dimanapun Ia diijinkan masuk.” Coelho dalam bukunya menyampaikan ada berbagai cara melayani Tuhan dan menemukan Tuhan termasuk dalam mencintai. “Pengalaman spiritual sesungguhnya adalah pengalaman praktis dari cinta dan cinta tidak mengenal peraturan.” Hal menarik dalam buku ini, mengangkat latar kultus karismatik yang tak asing dengan mujizat penyembuhan, bahasa roh, dan nilai-nilai spiritual. “Semakin dekat kita kepada Tuhan lewat iman kita, maka semakin sederhana pula Tuhan itu. Semakin sederhana Tuhan maka semakin besar keberadaanNya.”
Dibalik keindahan-keindahan kalimat dan nilai-nilai yang ditonjolkan dalam buku ini, ada bagian yang terkesan patah dan akan membingungkan bagi pembaca. Beberapa peristiwa dalam buku ini cukup sulit dicerna dan dimengerti bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Khususnya pada bagian akhir buku ini yang membuat Pilar berlari meninggalkan si teman lama setelah percakapan mereka mengenai keputusan si teman lama. Beberapa peristiwa dalam buku ini terkesan tiba-tiba dan terlalu cepat. Di samping itu, karakter Pilar pada mulanya terkesan samar dan berkembang amat lambat sehingga membuat pembaca tidak langsung menangkap peristiwa dan kejadian yang tengah diceritakan.
Dalam buku ini, dengan khas Coelho yang dalam karyanya terasa mendalam, filosofis, serta teologis mengangkat tema cinta antara dua individu manusia sekaligus cinta pada sang Ilahi. “Cinta tak perlu didiskusikan; cinta memiliki suaranta sendiri dan berbicara untuk dirinya sendiri.” Dibalik temanya yang mempesona turut membawa pembaca menyadari bahwa kita berada di tengah hal-hal luar biasa di setiap waktu hidup kita. “Banyak cara melayani Tuhan. Kalau kau merasa itu takdirmu pergilah dan carilah.”
Beberapa kutipan manis dari buku ini diantaranya:
“Menunggu sangatlah menyakitkan. Melupakan amatlah menyakitkan. Namun tidak mengetahui apa yang harus dilakukan adalah penderitaan yang paling menyakitkan.”
“Tidak ada alasan untuk menderita sebab dalam setiap cinta ada benih pertumbuhan.”
“Cinta sejati adalah penyerahan diri seutuhnya.”
“Jika kita mengetahui bahwa Tuhan menciptakan kita demi kebahagiaan, kita harus menganggap segala sesuatu yang mendatangkan kesedihan dan kekalahan adalah ulah kita sendiri.”
“Kita takkan pernah dapat menghakimi kehidupan orang lain, karena masing-masing orang hanya mengenal penderitaan dan penyangkalan dirinya sendiri.”
“Thomas Merton pernah mengatakan pada dasarnya kehidupan spiritual adalah mencintai. Kita tidak mencintai demi melakukan kebaikan atau untuk menolong atau melindungi seseorang. Kalau sikap kita seperti ini kita akan menganggap orang lain sebagai objek dan menganggap diri kita sederhana dan murah hati. Ini tak ada hubungannya dengan cinta. Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan dalam dirinya.”
“Tapi ada penderitaan dalam hidup dan ada kekalahan. Tak seorang pun dapat menghindarinya. Tapi lebih baik kalah dalam beberapa pertarungan demi impian-impianmu, daripada kalah tanpa mengetahui apa yang kau perjuangkan.”
“Alam semesta selalu membantu kita memperjuangkan mimpi-mimpi kita, tak peduli betapa konyolnya mimpi-mimpi itu. Mimpi-mimpi kita adalah miliki kita sendiri, hanya kita yang tahu apa yang dibutuhkan untuk membuatnya terus hidup.”
“Kata salah satu orang kudus – air sungai akan memadamkan apa yang telah ditulis oleh lidah api.”
”Penganut Budha benar, penganut Hindu benar, penganut Muslim juga benar, juga orang Yahudi. Setiap kali seseorang mengikuti jalan menuju iman setulus hati ia akan bersatu dengan Tuhan dan menciptakan mukjizat.”
“Kebenaran ada dimana iman berada.”
“Hanya manusia yang bahagia yang dapat menciptakan kebahagiaan di hati sesamanya.”
Judul : Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis
(By The River Piedra I Sat Down and Wept)
Judul Asli : Na margem do rio Piedra eu sentei e
Penulis : Paulo Coelho
Penerjemah : Rosi L. Simamora
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 224

Komentar
Posting Komentar