Resensi: Orang-Orang Oetimu
Cerita ini mengambil latar pulau timor pasca referendum, di salah satu pelosok timor barat yang bernama Oetimu saat itu demam sepakbola sedang melanda daerah itu. Sersan Ipi, seorang polisi yang bertugas di tanah kelahirannya, mengundang masyarakat desa untuk menonton piala dunia bersama di pos polisi. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya Sersan Ipi yang gemar memukul dan arogan hari itu sedang berbaik hati membuka posnya lengkap dengan suguhan daging, sopi, dan minuman berlabel karena pada hari itu mengumumkan pertunangannya dengan Silvy gadis cantik yang baru pindah dan menjadi primadona di kampung itu. Dengan alur cerita yang maju mundur, novel ini menceritakan latar belakang Sersan Ipi yang merupakan anak dari seorang perempuan muda berbangsa Portugis yang bernama Laura. Laura baru berusia 16 tahun saat ayahnya ditugaskan ke negara koloni di Timor. Dalam konflik politik dan militer ayahnya tanpa sengaja terseret ke dalam partai kiri, sehingga dalam konflik tersebut orang tua Laura di eksekusi tentara Indonesia. Laura diinterogasi, disiksa, dan diperkosa berbulan-bulan hingga hamil, seorang tentara diperintahkan untuk mengeksekusi Laura. Barangkali karena iba, tentara tersebut membawa Laura ke pinggir hutan dan menyuruh Laura bunuh diri, dalam kesempatan itu Laura melarikan diri melintasi hutan hingga tiba disebuah desa bernama Oetimu di Timor Barat. Tersungkur dan menangis keras, dengan tubuh yang penuh luka, borok, lumpur, berbalut baju tidur yang telah sobek dipakai berbulan-bulan ia disangka titisan iblis dan penyihir oleh warga kampong Oetimu. Hingga seorang tetua yang dianggap pahlawan karena pernah mengalahkan dan membakar kamp romusha datang dan menenangkan perempuan muda itu. Tetua yang dipanggil Am Siki itu merawat hingga wanita itu sehat dan cantik kembali, setelah melahirkan anaknya Laura meninggal. Anak itu diberi nama Siprianus Portekes Oetimu, Siprianus merupakan nama santo pelindung yang diberikan oleh seorang pastor, Portekes karena ibunya seorang Portugis, Portekes panggilan warga lokal kepada bangsa Portugis, Oetimu adalah nama desa kelahirannya. Anak itu bertumbuh besar dirawat Am Siki di kampung itu. Hingga secara khusus atas permintaan Am Siki sang kakek angkat sebagai bentuk balas jasa dari pemerintah atas gelar pahlawan Am Siki melawan tentara Jepang, Siprianus atau yang akrab dipanggil Ipi dimasukan ke instansi kepolisian yang secara khusus bertugas di Oetimu.
Usai mengumumkan pertunangannya dengan Silvy dalam pertandingan piala dunia yang melibatkan Brazil yang dijagokan warga kampung, sersan Ipi mengantar Martin Kabiti yang tidak ingin menonton lagi akibat kekalahan Brazil. Setiba di rumah Martin Kabiti mereka bertemu Atino dan gerombolannya yang tengah menyerang dalam rangka membalas dendam terhadap Martin Kabiti, Martin Kabiti dan Sersan Ipi diserang setiba di rumah. Dalam pertarungan tidak seimbang dengan gerombolan itu Sersan Ipi terbunuh oleh gerombolan Atino, sesaat sebelum para gerombolan itu dilumpuhkan tentara yang bertugas di kampung itu.
Tak hanya berputar pada si tokoh utama, novel ini menceritakan beberapa tokoh yang bersinggungan maupun tidak bersinggungan dengan tokoh utama. Novel in mengambil sudut pandang orang pertama dari beberapa tokoh lengkap dengan konflik dan cerita masing-masing yang mampu menembus latar belakang waktu sejak kolonialisme hingga orde baru. Orang-orang di Pulau Timor digambarkan dalam novel ini dalam kehidupan masyarakatnya yang keras dan santai dengan berlatar kolonialisasi, dominansi gereja, serta tekanan politik, trauma militer, hingga demam sepakbola dengan bahasa yang lugas dan apa adanya. Tokoh-tokoh di dalam novel ini diceritakan lengkap dengan pergumulan, latar belakang, dan deskripsi yang cukup detail. Hal menarik dari novel ini mampu menceritakan kehidupan dari banyak tokoh di dalamnya dengan konflik yang berbeda latar tempat dan waktu yang berbeda, jenis konflik yang berbeda dengan penokohan secara detail dan personal namun tetap mengalir dengan rapi dan berpilin tanpa terkesan patah. Keunikan ini terasa seperti memadukan cerpen dan novel menjadi satu. Beberapa kejutan juga disematkan oleh penulis, dengan beberapa sebab yang tidak mudah ditebak atau disangka oleh pembaca atau yang cukup dikenal dengan istilah plot twist.
Pada buku ini, alur cerita yang maju mundur membutuhkan fokus pembaca agar bisa tetap mengikuti alur cerita dan memahami tokoh yang dimaksudkan. Banyaknya karakter yang muncul menjadi kelebihan sekaligus kelemahan novel ini, karakter dan cerita yang berbeda menghadirkan nuansa cerpen pada novel ini sehingga pembaca dapat mengalami kesulitan mengingat peran dan kaitan antar tokoh. Buku ini pun perlu peringatan berupa pemberitahuan karena banyak adegan yang secara eksplisit menggambarkan adegan kekerasan dan seksual. Di samping itu ada beberapa kata dengan istilah lokal yang mungkin lupa dimasukan ke dalam glosarium. Namun secara keseluruhan buku ini merupakan salah satu karya sastra yang menarik dan unik yang menjadi kekayaan karya sastra Indonesia sehingga layak jika menjadi Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018.
Judul : Orang-orang Oetimu
Penulis : Felix K. Nesi
Penerbit : Marjin Kiri
Halaman : 220
Ket : Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018
Komentar
Posting Komentar